Sidoarjo – SMP Bahauddin Taman, Sidoarjo, baru-baru ini menggelar kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) untuk siswa kelas 7. Kegiatan ini mengusung tema "Kearifan Lokal" dengan fokus pada eksplorasi masakan dan jajanan tradisional khas Sidoarjo. Salah satu highlight dari kegiatan ini adalah praktik pembuatan klepon dengan berbagai varian rasa yang menarik, termasuk klepon dari bahan dasar ubi, labu kuning (waluh), dan ketan. Uniknya, kegiatan ini juga melibatkan peran aktif beberapa wali murid, sehingga menciptakan kolaborasi yang harmonis antara sekolah, siswa, dan orang tua.
Filosofi Klepon: Simbol Kehidupan yang Manis dan Harmonis
Klepon, dengan bentuknya yang bulat dan isi gula merah yang meleleh saat digigit, memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Secara simbolis, klepon melambangkan harmoni dan keseimbangan dalam hidup.
1. Bentuk Bulat: Kesempurnaan dan Keabadian
Bentuk bulat klepon mencerminkan kesempurnaan dan siklus kehidupan yang terus berputar. Dalam budaya Jawa, bentuk bulat sering dikaitkan dengan konsep alam semesta yang tak berujung dan keabadian. Ini mengajarkan siswa untuk selalu menjaga keseimbangan antara dunia fisik dan spiritual.
2. Isi Gula Merah: Manisnya Hidup yang Tersembunyi
Isi gula merah di dalam klepon melambangkan manisnya kehidupan yang sering kali tersembunyi di balik tantangan atau kesulitan. Seperti halnya klepon yang harus direbus hingga matang agar gula merahnya meleleh sempurna, kehidupan juga memerlukan proses dan perjuangan untuk menemukan kebahagiaan yang hakiki.
3. Warna Hijau dari Daun Pandan: Kedamaian dan Keharmonisan Alam
Warna hijau pada kulit klepon berasal dari ekstrak daun pandan, yang melambangkan kedamaian, keharmonisan, dan keterhubungan dengan alam. Ini mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan dan bersyukur atas karunia alam yang diberikan kepada manusia.
4. Taburan Kelapa Parut: Persatuan dan Kerjasama
Kelapa parut yang ditaburkan di atas klepon melambangkan persatuan dan kerjasama. Butiran kelapa yang saling menempel menggambarkan betapa pentingnya gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.
Praktik Membuat Klepon dari Ubi, Labu Kuning (Waluh), dan Ketan
Dalam kegiatan ini, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membuat klepon dengan variasi bahan dasar yang unik, seperti ubi, labu kuning (waluh), dan ketan. Setiap bahan memiliki karakteristik tersendiri yang memberikan warna, tekstur, dan rasa yang berbeda pada klepon.
1. Klepon Ubi
Klepon ubi dibuat menggunakan ubi yang dihaluskan sebagai bahan dasarnya. Ubi memberikan warna alami yang cerah, seperti ungu (dari ubi ungu) atau oranye (dari ubi jalar). Selain itu, klepon ubi memiliki tekstur yang lebih lembut dan rasa yang manis alami.
2. Klepon Labu Kuning (Waluh)
Klepon labu kuning dibuat dengan mencampurkan labu kuning yang telah dikukus dan dihaluskan ke dalam adonan tepung ketan. Labu kuning memberikan warna cerah yang alami serta aroma yang khas. Klepon ini juga memiliki tekstur yang sedikit lebih padat namun tetap lembut.
3. Klepon Ketan
Klepon ketan adalah versi klasik yang menggunakan tepung ketan sebagai bahan utama. Klepon ini memiliki warna hijau yang berasal dari daun pandan dan memberikan rasa yang otentik serta tradisional.
Selain itu, siswa juga berkreasi dengan isian gula merah yang klasik serta variasi modern seperti cokelat dan selai buah. Proses pembuatan klepon melibatkan beberapa tahapan, mulai dari pencampuran bahan hingga proses perebusan dan penyajian.
Yang membuat kegiatan ini semakin istimewa adalah keterlibatan beberapa wali murid. Mereka turut membantu siswa dalam proses memasak, memberikan tips praktis, serta berbagi pengalaman tentang cara membuat klepon yang lezat dan otentik.
"Kami sangat senang bisa terlibat langsung dalam kegiatan ini. Selain bisa berinteraksi dengan anak-anak, kami juga bisa berbagi pengetahuan tentang resep tradisional yang mungkin sudah jarang dilakukan di rumah," ujar Bu Fitri, salah satu wali murid yang ikut berpartisipasi.
Kolaborasi antara siswa dan wali murid menciptakan suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. Para siswa tampak antusias belajar dari orang tua mereka, sementara wali murid merasa bangga melihat anak-anak mereka terlibat dalam kegiatan yang mendidik sekaligus menyenangkan.
Menyelami Nilai Kearifan Lokal
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang cara membuat klepon, tetapi juga memahami nilai-nilai di balik keberadaan jajanan tradisional tersebut. Klepon, sebagai salah satu kuliner warisan nenek moyang, mengandung filosofi tentang kesederhanaan dan kehangatan budaya lokal.
"Kami ingin siswa menyadari bahwa di balik setiap makanan tradisional, ada cerita dan makna yang mendalam. Ini adalah bagian dari upaya kami untuk melestarikan kearifan lokal agar tidak dilupakan oleh generasi muda," tambah Bu Ratna, Wakil kepala sekolah SMP Bahauddin Taman.
Keterlibatan wali murid juga menjadi momen untuk memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga. Melalui kegiatan ini, orang tua diajak untuk lebih memahami visi dan misi sekolah dalam membentuk karakter siswa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Antusiasme Siswa dan Dampak Positif
Para siswa tampak sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka merasa senang bisa belajar sesuatu yang baru sekaligus bermain dengan bahan-bahan alami. "Aku baru tahu kalau klepon bisa dibuat dari ubi dan labu kuning. Aku suka yang dari labu kuning, aromanya harum banget!" kata Ramdhan, salah satu siswa kelas 7.
Selain meningkatkan keterampilan memasak, kegiatan ini juga membantu siswa mengembangkan sikap gotong royong, kreativitas, dan apresiasi terhadap budaya lokal. Para guru berharap, kegiatan serupa dapat terus dilakukan di masa mendatang untuk memperkuat karakter siswa sebagai pelajar Pancasila yang cinta tanah air.
Keterlibatan wali murid juga memberikan dampak positif bagi siswa. Mereka merasa lebih termotivasi dan percaya diri ketika melihat orang tua mereka mendukung kegiatan sekolah. Hal ini juga mempererat hubungan emosional antara siswa dan orang tua, yang pada akhirnya berkontribusi pada perkembangan karakter siswa secara keseluruhan.
Penutup
Kegiatan P5 dengan tema Kearifan Lokal di SMP Bahauddin Taman Sidoarjo ini berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna. Dengan praktik membuat klepon dari ubi, labu kuning (waluh), dan ketan, siswa tidak hanya belajar tentang kuliner tradisional, tetapi juga menyerap nilai-nilai budaya yang dapat mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan wali murid menambah nilai plus dalam kegiatan ini, karena menciptakan sinergi yang kuat antara sekolah, siswa, dan keluarga.
(Penulis: Tim Redaksi Sekolah)