Banyak hewan memiliki kemampuan mengenali jumlah, meski mereka tidak menghitung atau melakukan perhitungan matematika seperti manusia. Gagasan bahwa seekor hewan bisa berhitung atau mengerjakan soal matematika mungkin terdengar seperti cerita viral di berita atau video TikTok. Namun, kemampuan mengenali jumlah—yang sering disebut numerosity—ternyata dimiliki oleh berbagai jenis spesies. Jadi, hewan mana saja yang bisa menghitung dan memahami matematika sederhana? “Banyak spesies, termasuk serangga, moluska, kadal, burung, dan berbagai jenis mamalia—baik yang hidup di darat maupun di laut—dapat membedakan jumlah suatu benda,” ujar Michael Beran, profesor psikologi di Georgia State University, kepada Live Science melalui email. Menurutnya, kemampuan ini memberikan keuntungan evolusioner karena membantu hewan menemukan lebih banyak makanan, sehingga mereka bisa bertahan hidup dan mewariskan gen mereka. Contohnya, penelitian menunjukkan lebah madu (Apis mellifera) dapat menghitung penanda jalan saat terbang menuju bunga yang kaya nektar. Laba-laba emas pembuat jaring (Nephila clavipes) juga mampu menghitung berapa serangga yang terperangkap di jaringnya. Katak tungara (Physalaemus pustulosus) bahkan terlibat dalam “duel angka” sebagai bagian dari ritual kawin. Seekor jantan mengeluarkan suara merengek yang diakhiri bunyi aneh dan singkat yang disebut chuck. Katak jantan lainnya akan membalas dengan menambahkan satu chuck ekstra. Persaingan ini berlanjut dengan jumlah chuck yang terus bertambah sampai keduanya kehabisan napas. Singa betina (Panthera leo) menilai peluang menang dalam pertempuran dengan menghitung jumlah auman dari kawanan rival yang mendekat, sebelum memutuskan menyerang atau mundur. Pada 2024, peneliti menemukan bahwa gagak pemakan bangkai (Corvus corone) mampu mengeluarkan jumlah caw yang tepat sesuai petunjuk visual atau suara, sehingga mereka bisa menghitung lantang dari satu hingga empat. Namun, Beran menegaskan, kemungkinan besar hewan-hewan ini “tidak menghitung seperti yang kita maksud dalam konteks manusia.” Baca Juga: Dunia Hewan: Dua Spesies Baru Siput Laut Ditemukan di Sulawesi Utara Sebaliknya, banyak hewan memiliki alat kognitif yang disebut ilmuwan sebagai approximate number system (ANS) atau “indra angka,” jelas Giorgio Vallortigara, profesor ilmu saraf di Universitas Trento, Italia. ANS tampaknya bergantung pada “neuron angka,” yaitu sel saraf yang merespons secara maksimal terhadap jumlah tertentu. “Menariknya, kami menemukan neuron ini bahkan pada anak ayam yang baru menetas, menunjukkan bahwa ANS kemungkinan merupakan bawaan lahir,” katanya. Indra angka ini tidak bekerja seperti menghitung dengan jari, melainkan lebih pada membuat perbandingan cepat. Dua ciri utamanya adalah distance effect dan size effect. Distance effect berarti lebih mudah membedakan jumlah yang jaraknya jauh, misalnya 8 dan 4, dibanding 8 dan 6. Sedangkan size effect berarti lebih mudah membandingkan angka kecil daripada angka besar, meskipun selisihnya sama. Contohnya, lebih mudah membandingkan 2 dan 4 daripada 12 dan 14. ANS mengikuti Hukum Weber, yang menyatakan bahwa hewan mengenali perbedaan jumlah berdasarkan rasio, bukan nilai absolut, ujar Irene Pepperberg, profesor riset di Universitas Boston yang terkenal lewat penelitian bersama Alex si burung beo. Pepperberg dan Beran menegaskan bahwa kemampuan memperkirakan jumlah dengan ANS sangat berbeda dari kemampuan menghitung pada manusia. Menghitung sejati melibatkan pemahaman bahwa angka “4” berarti tepat empat benda, apa pun wujudnya—baik gabus, kunci, maupun kelereng. Menghitung juga memerlukan pembelajaran simbol, memahami nilai tiap angka, dan mengetahui urutannya. Anak manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menguasai konsep ini, dan “hanya sangat sedikit hewan non-manusia” seperti Alex si burung beo serta dua simpanse bernama Sheba dan Ai yang mendekati kemampuan menghitung sejati, jelas Pepperberg. Alex si burung beo bahkan mampu mengenali dan mengurutkan angka Arab dari satu hingga delapan, serta menambahkan dua kelompok benda seperti biskuit atau permen jeli. Bisakah Hewan Melakukan Matematika? Bagi banyak peneliti, kemampuan menghitung dianggap sebagai pendahulu dan fondasi matematika, tetapi bukan matematika itu sendiri. Jadi, meskipun banyak hewan tampaknya mampu menghitung dasar—setidaknya untuk mengenali perubahan jumlah—sebagian besar tidak benar-benar melakukan matematika, yang secara sederhana melibatkan aritmetika: angka dan simbol untuk penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. “Matematika formal seperti yang dipelajari anak-anak di sekolah jelas merupakan penemuan budaya yang relatif baru,” kata Vallortigara. Beberapa masyarakat tradisional, seperti suku Himba di Namibia, masih mengandalkan ANS untuk memperkirakan jumlah. Dengan berkembangnya pertanian dan peternakan, manusia membutuhkan perhitungan yang lebih tepat, yang kemungkinan memicu lahirnya aritmetika formal. Namun, para ilmuwan telah merancang eksperimen cerdas untuk membuktikan bahwa beberapa spesies tertentu mampu melakukan matematika sederhana, seperti penjumlahan dan pengurangan, kata Beran. Ketika dilatih untuk mengaitkan warna atau simbol tertentu dengan operasi matematika, beberapa spesies—termasuk burung beo abu-abu Afrika, merpati, primata tertentu, lebah madu, ikan pari, dan ikan siklid—mampu melakukan penjumlahan dan pengurangan sederhana dengan angka kecil. Dalam eksperimen ini, hewan diajarkan menafsirkan isyarat visual (seperti titik biru untuk “tambah satu”) dan menerapkan aturan itu untuk memecahkan masalah matematika sederhana. “Dan mungkin, dengan desain yang kreatif, bahkan beberapa bentuk perkalian dan pembagian—yang sebenarnya hanya kasus khusus dari penjumlahan/pengurangan—bisa saja dilakukan,” kata Beran. Namun, jika matematika melibatkan angka yang lebih besar—misalnya menghitung 12 + 22—atau rumus yang lebih kompleks seperti aljabar, “maka kemampuannya jauh lebih lemah pada hewan non-manusia,” tegasnya. ---Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.