Kodok Pacman (Ceratophrys ornata) yang dikenal juga sebagai katak bertanduk Argentina, berasal dari wilayah hutan tropis Amerika Selatan, khususnya di Argentina, Uruguay, dan Brasil bagian selatan.  Habitatnya berada di hutan tropis lembab dengan tanah lunak dan vegetasi lebat. Dengan area yang memiliki kelembapan tinggi, suhu hangat, dan tempat berlindung seperti daun gugur atau lubang tanah. Kodok ini terkenal karena bentuk tubuhnya yang bulat dan mulut lebar menyerupai karakter Pac-Man. Populer melalui game yang secara visual berputar-putar melahap titik cahaya. Hingga dianggap sebagai “maskot lucu” sekaligus “menyeramkan” karena sifatnya rakus—makan apa saja yang muat di mulutnya, bahkan sesama kodok. Ini menjadi alegori tentang siklus hidup, di mana makan adalah cara bertahan.  Di Indonesia, kodok Pacman tidak ditemukan secara alami di alam liar. Namun, seringkali menjadi pilihan hewan peliharaan eksotis yang dijual secara legal di toko reptil dan komunitas pencinta amfibi. Dalam laboratorium, kodok Pacman sering jadi model studi biomekanika, khususnya tentang gaya melahap yang ternyata salah satu terkuat di antara amfibi. Sebuah pertanyaan muncul, bagaimana mereka bisa melahap mangsa berukuran besar tanpa gigi-pengunyah yang kompleks? Mesin Katrol di Tenggorokan Secara kasat mata, kita hanya melihat seekor kodok “menelan bulat-bulat.” Namun kenyataannya, proses ini adalah kolaborasi organ yang rumit. Hyobranchial adalah penyebutan dari struktur tulang rawan di dasar mulut yang bergerak turun-naik dengan amplitudo besar, sementara bola mata ikut ditekan ke dalam rongga mulut, mendorong mangsa ke arah esofagus. Hasil visual dalam penelitian Rachel Keeffe dan peneliti lainnya menggunakan teknologi XROMM (X-ray Reconstruction of Moving Morphology) merekam mekanisme menelan pada kodok. Dalam tulisannya yang bertajuk "XROMM Analysis of Feeding Mechanics in Toads: Interactions of the Tongue, Hyoid, and Pectoral Girdle" menjadi bukti nyata bahwa kodok memiliki solusi anatomis yang unik. Tanpa gigi pengunyah, mereka harus menemukan cara lain untuk menaklukkan mangsa yang kadang ukurannya hampir separuh tubuh mereka. “Sebagian besar pekerjaan menelan sebenarnya terjadi di dalam mulut itu bukan sekadar pada rahang. Hyobranchial bergerak dengan amplitudo luar biasa, bahkan hingga mendekati jantung, untuk memastikan makanan besar bisa masuk,” tulis Keeffe. Bukan hanya rahang yang bekerja, melainkan seluruh sistem tersembunyi di balik kulit tipis mulutnya: bola mata ikut menekan, dasar mulut bergerak naik-turun, dan sebuah kerangka lunak bernama hyobranchial bergerak seperti katrol, memaksa mangsa besar itu meluncur ke perut. Pacman di Dunia Nyata Adaptasi pacman sangat menonjol pada kelompok kodok bertubuh besar dengan mulut lebar, yaitu horned frog dari genus Ceratophrys. Karena bentuknya, katak ini sering dijuluki “Pacman frog” mirip tokoh permainan video klasik yang menelan apa saja di hadapannya. Observasi lapangan mengungkap bahwa spesies seperti Ceratophrys cranwelli dan Ceratophrys stolzmanni memang dikenal sebagai predator oportunis. Mereka tidak hanya menyambar serangga, tetapi juga vertebrata kecil seperti kadal, burung muda, hingga tikus. “Kami mendokumentasikan perilaku macrophagy dan necrophagy pada Ceratophrys stolzmanni, termasuk memangsa vertebrata kecil,” tulis Székely dan peniliti lainnya dalam studi bertajuk "What does a Pacman eat? Macrophagy and necrophagy in a generalist predator, Ceratophrys stolzmanni"  yang dimuat pada tahun 2019. Istilah macrophagy mengacu pada kemampuan memakan mangsa berukuran besar, sementara necrophagy berarti memakan bangkai, ini merupakan dua perilaku makan yang jarang diasosiasikan dengan kodok. “Macrophagy pada Ceratophrys menunjukkan bahwa perilaku makan kodok dan katak jauh lebih beragam dari yang kita bayangkan,” tulis Székely. Baca Juga: Dunia Hewan: Bagaimana Katak Bernapas dan Minum dengan Kulitnya? Energi dari Makanan Besar Mengapa kodok mau bersusah payah menelan mangsa yang tampak mustahil? Jawabannya ada pada keuntungan energi yang mereka peroleh. Riset fisiologis pada kodok pacman atau horned frog menunjukkan bahwa diet berbasis vertebrata kecil memberikan nilai energi lebih tinggi dibandingkan hanya mengonsumsi serangga. “Efisiensi pertumbuhan dan konversi massa lebih tinggi ketika kodok pacman atau horned frog (Ceratophrys cranwelli) memangsa vertebrata kecil dibandingkan invertebrata,” tulis Grayson juga peneliti lainnya dalam studi "Effects of prey type on specific dynamic action, growth, and mass conversion efficiencies in the horned frog" yang terbit pada 2005. Artinya, walau risiko menelan mangsa besar cukup tinggi (tersedak, cedera, atau gagal mencerna), keuntungan energi yang diperoleh bisa membantu mereka tumbuh lebih cepat dan mempertahankan kondisi tubuh. Dalam ekologi predator, ini merupakan strategi berisiko tinggi namun keuntungannya besar. Kodok: Predator yang Diremehkan Kemampuan menelan mangsa besar tidak muncul begitu saja. Secara evolusioner, amfibi mengembangkan berbagai trik anatomi untuk mengimbangi keterbatasan rahang mereka. Salah satunya adalah penggunaan bola mata sebagai “alat bantu menelan.” Sejak lama, ilmuwan tahu bahwa mata kodok bisa masuk ke rongga mulut dan ikut mendorong makanan. Kajian klasik oleh Kiisa Nishikawa dan Kurt Schwenk menegaskan hal ini: “Tahapan gangguan pencernaan pada amfibi melibatkan koordinasi berbagai struktur, termasuk lidah, rahang, tulang hyoid, bahkan retraksi mata, untuk memindahkan mangsa ke esofagus,” tulisnya dalam Ingestion in Reptiles and Amphibians yang terbit pada 2021. Bila kita bandingkan dengan reptil, pola ini unik. Reptil cenderung menggunakan rahang yang kuat atau gerakan leher, sementara kodok mengandalkan sistem internal yang lebih fleksibel. Adaptasi ini menjadi kunci keberhasilan amfibi kecil untuk menangani mangsa yang relatif besar di alam liar. Meski riset banyak berfokus pada kodok pacman di Amerika Selatan, nyatanya, Indonesia juga memiliki spesies besar yang potensial menunjukkan perilaku serupa. Kodok Jawa (Fejervarya cancrivora) dan bangkong kolam (Limnonectes blythii) dikenal mampu memangsa hewan kecil di sawah atau hutan tepi sungai. Sayangnya, dokumentasi ilmiah mengenai mekanisme menelan spesies lokal masih jarang. Selama ini, citra kodok ataupun katak di mata banyak orang sebatas pemakan serangga. Padahal, mereka adalah predator oportunis dengan strategi makan yang sangat bervariasi. Perbedaan itu menunjukkan spektrum ekologi yang luas. Menggali perilaku makan kodok tidak hanya akan menambah pengetahuan zoologi, tetapi juga memberi gambaran ekologi baru: bagaimana peran predator amfibi dalam mengendalikan populasi vertebrata kecil di ekosistem tropis, memberi wawasan biologis yang menakjubkan, juga mengingatkan bahwa adaptasi alam sering kali lebih kreatif daripada imajinasi kita.   ---Pengetahuan tak terbatas kini lebih dekat. Simak ragam ulasan jurnalistik seputar sejarah, budaya, sains, alam, dan lingkungan dari National Geographic Indonesia melalui pranala WhatsApp Channel https://shorturl.at/IbZ5i dan Google News https://shorturl.at/xtDSd. Ketika arus informasi begitu cepat, jadilah bagian dari komunitas yang haus akan pengetahuan mendalam dan akurat.